Friday, April 24, 2015
Thursday, April 23, 2015
Lagi makna arif billah
PERJALANAN
SIFAT SANG ‘ARIF BILLAH
Jadi, orang yang arif, disetiap haliyahnya/tingkahnya selalu hidup dengan keadaan dhorurot (merasa kesulitan dan sangat membutuhkan kepada Allah) yang mana perasaaan itu akan terbawa terus disetiap doanya bahkan disetiap ia mengadu kepada-Nya, karena perasaan butuh dan lemahnya tidak bisa lepas darinya baik itu dalam keadaan sengsara ataupun keadaan lapang. العارف لا يزول إضطراره ولا يكون مع غير الله قراره"Al ‘arif billah itu tidak akan hilang keadaan dhorurotnya (kesulitan dan selalu butuh kepada Allah), dan akhir dari semua cita-cita atau harapannya selalu bersama Allah tidak yang lain-Nya"Seorang hamba bisa dikatakan 'arif billah apabila tauhidnya sudah sampai kepada Allah, kepercayaan, tawakkal dan pasrahnya hanya kepada Allah. ini adalah derajat yang mana kehendak seorang yang 'arif sudah sirna didalamnya dan hanya memandang pada kehendak Allah, serta dihadapannya semua sebab-sebab menjadi hilang dibawah kekuasaan-Nya dan hilang juga semua makhluk (selain Allah) dikarenakan ia sedang menyaksikan-Nya.
Orang yang 'arif ini hidupnya tidak diwarnai dengan kelapangan dan kesengsaraan seperti tingkahnya kebanyakan orang yang kadang-kadang mereka disuatu saat merasa lapang dan tidak butuh untuk kembali kepada Allah dan menyibukkan diri dengan beribadah kepadaNya. Dan terkadang mereka dihinggapi rasa gelisah atau sengsara yang bisa membawa mereka kepada perasaan yang sangat butuh kepada Allah.Sesungguhnya sang 'arif di dalam hidupnya, tidak tahu akan hal ini, ia selalu melihat pada dirinya dalam keadaan dhorurat (kesulitan dan sangat butuh kepada Allah).
Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman :أَمَّن يُجِيْبُ الْمُضْطَرُّ إِذَا دَعَاهُ.Artinya : Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya.QS.An Naml : 62
Sesungguhnya sebab-sebab kauniyyah (makhluk) hilang dan sirna dihadapan seorang 'arif sehingga semuanya tidak tersisa di hadapannya kecuali hanya Allah Dzat yang membuat sebab, Maha Esa dan berbuat sekehendak-Nya. Jadi, ia tahu bahwa kelapangan dan cobaan itu datangnya dari Allah, dan ia didalam kedua tingkah ini selalu bergerak dengan keyakinan bahwa ia dalam penguasaan dan pengaturan Allah dan selalu tunduk akan kekuasaan-Nya.Dari segi ini, ia tidak tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari dan ia tidak tahu apa yang akan diperbuat oleh Allah untuknya.
Sesungguhnya ia selalu hidup dengan beri'tiqod dengan apa yang difirman oleh Allah :وَمَآ أَدْرِى مَا يُفْعَلُ بِي وَلا بِكُمْ.Artinya : " Aku tidak mengetahui apa yang akan diperbuat terhadapku dan tidak (pula) terhadapmu.QS.Al-Ahqaaf: 9.
Baik itu sesuatu yang berhubungan dengan kematian, kehidupan, rizqi, mata pencaharian, keamanan dan ketenangannya, serta ia menangguhkan semua urusannya kepada Allah.Ini merupakan arti yang meliputi secara umum pada kalimat "al-fuqara" dalam firman Allah:يَآ أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَآء
ُ اِلَى اللهِ صلى وَالله ُهُوَ الْْغَنِيُّ الْحَمِيدُ.Artinya: "Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dialah yang Maha Kaya (Tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji". QS.Fathir : 15
Dan kalimah ini mempunyai perbandingan dengan kalimat yang mempunyai makna yang meliputi secara umum pada kalimat "al-ghina'" dalam firmanNya:.والله هو الغني الحميدJadi, orang yang 'arif tidak akan merasa aman dari rekayasa-Nya dalam setiap detik hidupnya. Sesungguhnya ia takut akan keluar dari jalan-Nya setelah ia mendapatkan nikmat berupa kepatuhan kepada-Nya dan takut akan cobaan dari Allah yang berupa ketidak tahuan terhadap sesuatu yang bisa mendekatkan diri kepada-Nya setelah ia diberi nur / cahaya yang mana ia bisa melihat dengan nur tersebut, dan juga ia takut akan dicoba dengan hati yang keras yang menyebabkan ia tidak bisa menerima anugerah ilahiyyah / ruhaniyyah.
Barangkali ia selalu ingat dengan perasaan takut akan firman Allah :وَاعْلَمُوآ اَنَّ الله َيَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَاَنَّهُ ÿاِلَيْهِ تُحْشَرُوْنَ.Artinya : " Ketahuilah bahwa Sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya, dan Sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan".QS. Al Anfal : 24
Orang yang 'arif tidak bisa merasa aman dan tenang memandang bahwa air hujan yang turun dari langit bisa saja berubah menjadi kerikil, sumber-sumber air bumi berubah menjadi gunung-gunung berapi dan ketetapan gunung-gunung berapi tersebut menjadi goncang ganjing serta bisa jadi tenggelam. Itu semua bisa terjadi dalam sekejap saja atas perintah Allah jikalau Allah memerintahkan : كن.Dan juga, barang kali ia takut akan terjadinya semua itu yang disebabkan dari satu dosa yang diperbuatnya atau karena suatu sebab yang menjadikan kurang beradabnya disisi Allah. ini semua dengan tanpa memandang bahwa sesungguhnya ia sangat faqir dalam kayanya, sangat lemah didalam kuatannya dan ia tahu bahwasanya ia tidak memiliki sedikitpun dari semua itu.
Jadi, orang yang arif, disetiap haliyahnya/tingkahnya selalu hidup dengan keadaan dhorurot (merasa kesulitan dan sangat membutuhkan kepada Allah) yang mana perasaaan itu akan terbawa terus disetiap doanya bahkan disetiap ia mengadu kepada-Nya, karena perasaan butuh dan lemahnya tidak bisa lepas darinya baik itu dalam keadaan sengsara ataupun keadaan lapang.Akan tetapi kegelisahan itu tidak menjadikannya berpaling kepada perasaan takut dari ujian seperi halnya fakir setelah kaya dan sakit setelah sehat dan juga tidak menjadikan ia berpaling untuk memohon sehat apabila ia sakit atau kaya apabila ia fakir, memang orang yang arif adalah orang yang hilang kehendaknya serta hanya pasrah terhadap apa yang dikehendaki oleh Allah akan tetapi perasaannya selalu takut akan keluarnya dari jalan ketaataan kepada Allah menuju kepada sesuatu yang dimurkai oleh Allah atau sesuatu yang mengesankan kurang sopan dan beradab disisi-Nya atau takut akan dibukanya tutup-tutup kesalahan dirinya yang menyebab-kan manusia yang lain tahu akan ‘aibnya.
Maka, dengan alasan ini (bukan karena memperolah kedunia-wian) ia selalu merasa khawatir dan selalu kembali kepada Allah dan menyibukan diri dengan ‘Ibadah kepada-Nya. maka dari arah ini, tidak akan sirna keadaan dlorurot (merasa kesulitan) dan perasaan selalu butuh kepada Allah.Bagaimana perasaan itu bisa muncul sedang disetiap tingkahnya ia selalu mengulang-ulang didalam hati dan lisannya akan firman Allah :وَخَافُونِ اِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَArtinya : " Karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepadaku, jika kamu benar-benar orang yang beriman. QS.Al-Imron :175
Barangkali ia memandang bahwasanya Allah tidak berfirman :(وخافون إن كنتم عاصين) akan tetapi Allah berfirman (وخافون إن كنتم مؤمنين.), maka setiap orang mukmin seharusnya takut kepada Allah dalam setiap keadaan apapun.Dan perasaan takut ini adalah dari ketidak tahuan akan akibat akhirnya, tidak ada perhatian pada lembutnya nilai adab di sisi Allah dan juga dari sikap bersandarnya orang yang taat atas ketaatannya, orang yang beribadah atas ibadahnya, orang yang berjihad atas jihadnya dan sikap orang yang alim atas ilmunya, maka taat dari itu taat dan amalnya akan berubah menjadi hijab yang menjadi penghalang dari maghfiroh dan ampunan Allah. Sehingga menjadi sebab kehancurannya.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :لا يدخل أحدكم الجنة عمله"amal salah satu diantara kalian tidaklah bisa memasukkan kesurga"Ini semua adalah sesuatu yang bisa menjurumuskan orang yang sedang beribadah dan orang yang menuju Allah, dan itu semua juga merupakan perkara penting yang bisa membangkitkan rasa khouf dan idhtiror ( merasa kesulitan dan selalu butuh kepada Allah ) didalam qolbunya sang ‘arif billah, karena itu kebanyakan ihwalnya mereka adalah selalu tunduk kepada Allah, selalu menangis karena takut kepada-Nya dan selalu memohon/berdoa kepadaNya agar mereka dikukuhkan imannya dan supaya tidak dibuka kejelekannya serta supaya Ia tidak memasrahkan mereka kepada diri mereka sendiri.
Banyak ulama yang meriwayatkan bahwasannya Syeikh Abdul Qodir Al Jailany pada suatu saat ia berada di Multzam ia memohon kepada Allah seraya berkata :اللهم إن كان في قضائك أن لا تستر قبائحي عن الناس يوم القيامة فاحشرني أعمى,كي لا أفتضح بين الخلائق الذين يحسنون الظن بي اليومArtinya : "Ya Allah....! apabila didalam qodho-Mu bahwa besok di hari kiamat Engkau akan membuka kejelekan-kejelekanku dihadapan manusia, maka giringlah aku dalam keadaan buta supaya kejelekanku tidak terlihat dihadapan mereka yang mana hari ini mereka sedang berprasangka baik padaku".
Adapun sifat sang ‘arif billah yang kedua, dipaparkan oleh Ibnu ‘Athoillah dengan ibarot :ولا يكون مع غير الله قرارهSesungguhnya termasuk dari beberapa sifat orang yang ‘arif adalah semua sebab sirna dihadapannya, karena ia selalu memandang kepada Dzat yang membuat sebab dan semua kauniyyah (makhluk) menjadi hilang darinya karena ia selalu menyaksikan Allah, dihadapannya tidak ada orang yang membuat tenang dan merasa nikmat dengannya serta bisa diharapkan dan ditakuti kecuali hanya الله subhanahu wa ta'ala.
Maka dari itu tujuan akhir dari semua cita-cita tidak lain adalah bersama Allah, karena yang dimaksud dengan kalimah : Al Qororالقرار / disini adalah harapan/cita-cita akhir dibalik semua lantaran atau sebab dan yang manjadi tumpuan akhir didalam kehidupan orang-orang yang ‘arif billah hanyalah satu yaitu Allah.Apabila kamu bertanya kepada orang yang ‘arif : apa yang kamu inginkan dari hidup ini ? ia akan menjawab : saya menginginkan apa yang diinginkan oleh Allah, Apabila kamu bertanya kepadanya : apa yang menjadikan kamu semangat dan gembira ? ia akan menjawab : ridhonya Allah, Apabila kamu bertanya kepadanya : kenikmatan apa yang bisa kamu lihat di yaumil qiyamah ? ia akan menjawab : melihat Allah, Apabila kamu bertanya kepadanya : apa yang membuat kamu takut ? ia akan menjawab : murka Allah. Apabila kamu bertanya kepadanya : siapa kekasih yang mampu menguasai hatimu ? ia menjawab : kekasihku adalah Allah.Inilah kandungan dari pada makna kalimah Al Qoror القرار / bagi orang yang ‘arif billah.
Mungkin kita bertanya : apa tujuan membicarakan derajat tinggi yang disandang oleh Robbaniyyun (ahli ketuhanan) padahal kita tahu bahwa pada diri kita sangat lemah dan sulit untuk bisa meniru jejak mereka ?Sebagai jawabannya, bahwa sesunguhnya jalan yang mampu mengantarkan kejalan mereka (Robbaniyyun) selalu terbuka dihadapan kita semua walaupun jauh dan lama masanya.
Kemudian seorang muslim tidak akan merasa prihatin akan kelancangannya dalam maksiat kepada Allah kecuali dengan menyimak ihwalnya orang-orang soleh dan besarnya perjuangan mereka didalam mencari ridho Allah, dan dengan ini akan menyebabkan timbulnya rasa mahabbah kepada mereka dan dengan rasa mahabbah ini akan membawa kita agar bisa mengikuti mereka walaupun kita tidak termasuk kedalam golongan mereka.
Cinta kepada orang-orang soleh merupakan jalan yang dekat untuk mengantarkan kita kepada ridho-Nya.wallahualam
SANTRI JALANAN
Sumber: http://ubaidillahmuhammad.blogspot.com/2011/06/sifat-sang-arif-billah.html?m=1
Arif Billah dan alim billah
Perbezaan Alimbillah Dengan Arifbillah
Ia mempercayai ALLAH berdasarkan hujah ilmu dan akalAtas dasar ilmu ia tidak boleh menolak adanya TuhanTapi percaya secara ilmu itu, tidak ada rasa berTuhanTakut dan cintanya dengan ALLAH tidak dapat dirasakanBerlainan sekali Al Arifbillah
Orang yang mengenal ALLAH dengan makrifat yang mendalamIlmunya memberitahuDikuatkan dengan perasaan hati yang sentiasa sedar rasa berTuhanAl Alimbillah suka berbahas, suka berforum, suka bermujadalahTapi apa yang dibincangkan tidak pun dihayati
Dan tidak diperbincangkan dengan amalanAl Arifbillah, cinta dan takutnya dengan Tuhan amat mendalam
Perasaan itu payah hendak diungkaikanRasa kehambaan dapat dilihat di dalam kehidupanAl Arifbilah bercakap berdasarkan pengalamanAl Alimbilah bercakap di atas dasar ilmu pengetahuanAl Arifbillah kerana rasa kehambaan mendalam
Sifat-sifat mahmudahnya nampak terserlah di dalam kehidupanAl Alimbillah sifat-sifat mazmumahnya yang terserlahTerutama sifat-sifat ego, riak dan megahGila nama dan glamourIngin dipuji dan dikenang jasanya
Al Arifbillah , sanjungan dan pujian itulah yang menyeksa hatinyaItulah yang dibenci dan sangat tidak disukainyaAl Alimbilah belum menyelamatkan seseorangAl Arifbillah baru ada jaminan dari TuhanShare
Sumber: http://cahayamukmin.blogspot.com/2010/06/perbezaan-alimbillah-dengan-arifbillah.html?m=1#ixzz1pNto60M1
Thursday, April 2, 2015
Arifbillah
89: Tujuan Orang Arifbillah MAKSUD DAN TUJUAN ORANG ARIFBILLAH ADALAH BENAR DALAM UBUDIYAH (KEHAMBAAN) DAN MELAKSANAKAN HAK-HAK RUBUBIAH (KETUHANAN).Insan adalah ciptaan Allah s.w.t yang paling istimewa kerana padanya digabungkan aspek zahir dengan aspek batin.
Aspek zahirnya menyerupai alam semesta dan aspek batinnya berkaitan dengan hal-hal ketuhanan. Hal-hal ketuhanan yang menyinari batin manusia itulah yang menyebabkan sekalian malaikat diperintahkan sujud kepada Adam a.s, bapa kepada sekalian insan.
(Ingatkanlah peristiwa) tatkala Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menciptakan manusia – Adam - dari tanah; Kemudian apabila Aku sempurnakan kejadiannya dan Aku tiupkan padanya roh dari (ciptaan)-Ku, maka hendaklah kamu sujud kepadanya”. ( Ayat 71 & 72 : Surah Saad )
Hati nurani atau rohani manusia ada perkaitan dengan roh urusan Allah s.w.t. Ini yang menjadikan manusia sebagai makhluk yang paling mulia, sehingga malaikat diperintahkan sujud kepada manusia.
Roh urusan Allah s.w.t menjadi nur yang memberi petunjuk kepada manusia. Hati nurani yang diterangi oleh nur ini akan terpimpin kepada jalan Allah s.w.t. Roh urusan Allah s.w.t itulah yang memungkinkan segala urusan sampai kepada Allah s.w.t, termasuklah ibadat, amalan, doa, rayuan dan apa sahaja yang manusia lakukan.
Orang arifbillah menyedari dan menghayati hakikat ini. Kesedaran terhadap roh urusan Allah s.w.t itu membuat mereka menjadikan benar dalam ubudiyah (kehambaan) sebagai tujuan hidup mereka dan pada masa yang sama juga mereka menunaikan hak ketuhanan. Kehambaan dinyatakan melalui syariat:
Dan (ingatlah) Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk mereka menyembah dan beribadat-Ku. ( Ayat 56 : Surah adz-Dzaariyaat )
Hak ketuhanan Allah s.w.t pula dinyatakan melalui pandangan hakikat:“Kerana sesungguhnya aku telah berserah diri kepada Allah, Tuhanku dan Tuhan kamu! Tiadalah sesuatupun dari makhluk-makhluk yang bergerak di muka bumi melainkan Allah jualah yang menguasainya.
Sesungguhnya Tuhanku tetap di atas jalan yang lurus”. ( Ayat 56 : Surah Hud )
Maka bukanlah kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allah jualah yang menyebabkan pembunuhan mereka. Dan bukanlah engkau (wahai Muhammad) yang melempar ketika engkau melempar, akan tetapi Allah jualah yang melempar (untuk membinasakan orang-orang kafir). ( Ayat 17 : Surah al-Anfaal )
Jalan syariat memperbaiki amal dan jalan hakikat pula menyaksikan Rububiyah, tidak luput dari Hadrat Allah s.w.t dalam segala perkara dan pada setiap masa. Bila dua jalan tersebut berpadu sebagai satu jalan, lahirlah amal zahir dan amal batin yang tidak bercerai tanggal.
Orang arifbillah bersungguh-sungguh mengerjakan tuntutan syariat dan pada masa yang sama beriman serta bertawakal sambil menyaksikan hakikat ketuhanan (Rububiyah) menguasai segala sesuatu. Tidak ada yang hidup, yang berkuasa, yang berkehendak, yang mengetahui, yang mendengar, yang melihat dan yang berkata-kata melainkan semuanya di bawah urusan Rububiyah.
Apa sahaja yang berada di dalam genggaman atau diheret oleh Rububiyah itu dinamakan ubudiyah. Rububiyah adalah kewujudan yang memerintah dan ubudiyah pula kewujudan yang diperintah. Hati yang suci bersih, apabila disinari oleh Nur Ilahi, berpeluang mengembara secara kerohanian dari ubudiyah kepada Rububiyah untuk memperolehi makrifat-Nya. Pengembaraan kerohanian bermula dari alam kebendaan (nasut), naik ke alam lakuan (malakut) dan seterusnya ke alam sifat (Jabarut). Kemudian dia melalui asma’ (nama-nama Allah s.w.t) dan hakikat segala sesuatu.
Seterusnya dia mencapai fanafillah (hilang lenyap kesedaran diri di bawah penguasaan Allah s.w.t). Setelah melepasi daerah fana dia masuk kepada daerah baqabillah (kesedaran kekal bersama-sama Allah s.w.t). Kemudian dia turun kepada kesedaran sifat (Jabarut). Di dalam daerah ini dia mengenali hakikat dirinya dan Hakikat Insan (manusia), iaitu suasana Rububiyah yang menguasai sekalian manusia dan juga dirinya. Bila dia turun lagi, dia kembali kepada alam insan semula, memikul amanah sebagai khalifah Allah yang bertanggungjawab menjalankan perintah Allah s.w.t di atas muka bumi ini.
Salik yang telah menyempurnakan pengembaraannya dan mendapat amanah kekhalifahan itulah yang dinamakan arifbillah. Martabat ini dicapai dengan menghapuskan segala kepentingan diri sendiri ke dalam kefanaan Allah s.w.t, sehingga mencapai makam baqa. Orang arifbillah mengalami dan mengenali suasana ubudiyah dan Rububiyah. Dia telah berjaya menyatukan syariat dan hakikat. Taat kepada Allah s.w.t dan Rasul-Nya dengan mematuhi perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya dan berjalan sesuai dengan Sunah Rasulullah s.a.w, adalah tujuan dan maksud orang arifbillah.
Mereka kuat melakukan amal ibadat tetapi tidak melihat kepada amal itu. Segala sesuatu dikembalikan kepada Allah s.w.t. Allah s.w.t yang memberi petunjuk dan Dia juga yang memberi kekuatan untuk melakukan ketaatan kepada-Nya. Tidak ada yang berlaku melainkan di bawah takluk Kudrat dan Iradat Allah s.w.t jua. Kearifan tidak berpisah dengan ubudiyah. Rasulullah s.a.w merupakan manusia yang paling arif dan baginda s.a.w jugalah yang menjadi manusia yang paling kuat berbuat ubudiyah di antara sekalian makhluk.
Tajuk 90 - 92KANDUNGAN
Copy dari alhikam0.tripod.com